DUA KATA
Kringgg….kringg……kring……Suara alarm berbunyi nyaring menunjukkan waktu bangun
telah datang. Sontak membuat aku kaget sekaligus membuat semua badanku teronjak
di atas springbed. Alarm membuat
semua kisah dalam bunga tidurku yang indah terhenti seketika.
“Dasar jam weker tidak punya perasaan, orang lagi
tidur malah dibangunin ” Cetusku samar- samar pada jam weker yang sebenarnya
aku sendiri yang mengaturnya. Aku berusaha untuk mengalahkan rasa kantuk yang
seolah memberi godaan agar tidur kembali, aku mencoba meraih jam weker
dan mematikan suaranya yang membuat keributan di kamarku. Ayo lah Ratih
banguuuunnn….!!!! Pikirku untuk membantah rasa kantuk yang sulit
untuk dihilangkan. Aku memulai langkah perlahan bangun dari tempat
tidurku.
“Aaaaaa………..” pekikanku tanpa sengaja menghilangkan rasa kantukku. Aku
terkejut pada tampilan cermin di depan mataku yang tidak sengaja ku lihat.
Close up mataku pada cermin perlahan memperlihatkan objek yang tak bisa ku
percaya.
“Mataku bengkak………” pekikan ku lagi. Suara yang membuat seisi
rumah seolah kaget dengan suara pekikanku. Namun hanya rumah yang diisi dengan
keheningan.
“ Nyesel…nyesel aku nonton sinetron tadi malam, mata aku jadi
bengkak ”. Ujarku kesal sembari melihat mataku di cermin yang tertempel
di dinding kamar mandiku.
Aku mencoba menerima kenyataan bahwa mataku yang dulunya tanpa
kantong, sekarang bukan kantong lagi tapi ibaratnya karung di mata. Ujarku
kesal dalam hati sambil meraba- raba mata yang tak mungkin kembali seperti
semula dengan cepat. Kekesalanku kuhentikan seraya melangkah keluar dari kamar
mandi yang menampilkan layar yang tidak mengenakkan bagiku.
“Waw…sunrice!!” mataku
beralih pada jendela yang menampilkan layar yang sangat menakjubkan. “Aku ngak
akan melewatkan saat – saat yang indah ini ”. Aku mulai melangkahkan kaki
menuju pantai yang memberikan sinyal deburan ombak, deburan ombak yang semakin
kuat mempercepatlangkah kakiku menuju pantai. Tiba – tiba langkah kakiku
terhenti seketika, setelah aku merasakan getaran mata yang tertuju pada
seorang kakek yang telah bungkuk mencoba mendorong kapal kecilnya menuju laut
lepas yang seakan telah bersahabat dengan kakek. Hatiku seakan merasakan
rintihan suara hati kakek yang mengalami kesusahan dalam mengawali kehidupan
paginya. ‘ Ya Allah, ternyata masih ada orang yang lebih tidak beruntung
daripada aku’ pikirku seraya memandang sosok yang kuanggap pahlawan pantaiku.
You will see I can give you..every thing you
need.. nada dering
ponselku berbunyi , menghentikan lamunanku pada pahlawan pantaiku yang tak
berujung. Aku bergegas mengambil ponsel pink kesayanganku dari saku celana.
“arrgghh…..” bentakku seraya memandang ponsel yang menampilkan nama pengirim
pesan singkat itu. “ Mama lagi..mama lagi “ kalimat yang ku keluarkan tanpa ada
lawan percakapan. Memangnya mama ngak bosan apa mengirim pesan singkat terus
padaku, aku saja sebagai anak mama yang selalu menerima pesan , sudah bosan
menerimanya. Pesan singkat mama selalu menggambarkan over protective mama padaku. Selamat
pagi Ratih anak mama! Sudah bangun kan? Jangan lupa sarapan ya sebelum
berangkat ke kampus! Oo iya, jangan pacaran terus sama Resky ya..! ntar
ngak konsentrasi lagi belajarnya! Sudah dulu ya..Selamat belajar! Kalimat
yang aku terima setiap pagi, kadang membuat aku jenuh sekaligus bosan pada
perhatian mama yang terlalu berlebihan padaku.
“ Aku capek balas pesan singkat mama”. Omonganku yang memutus
kebosanan seraya menutup ponsel dan memasukkannya kembali pada saku
celanaku. Aku melanjutkan langkah menuju bibir pantai yang seakan telah
menunggu kehadiranku. Langkah kaki semakinku percepat walaupun jaraknya hanya
sekitar 15 meter lagi, tapi aku tidak sabaran lagi menuju bibir pantai yang
menampilkan sunrice yang begitu
indah.
“Aaaaa……….” Pekikan suara yang mengarah pada laut lepas seraya
kulakukan agar semua beban yang terpendam selama ini bisa lepas seperti
suaraku. Pekikan yang juga mewakili rasa bosan pada mama yang terlalu over protective padaku. Namun semua
beban yang ada, rasanya terabaikan oleh tampilan memukau pantai yang
menampilkan surice yang begitu indah
yang tidak pernah membuat aku bosan walaupun setiap hari aku tidak
merasakan perubahan yang significant.
Tapi ada satu hal yang membuat aku penasaran dari pantai ini. Penasaran pada
kakek…” loh? Kakeknya mana, kok cepat banget menghilangnya? ”. Rasa penasaranku
kali ini hanya terjawab oleh rasa kecewa.
***
“Woi…..!!!.”
suara yang membuat aku terkejut. Siapa lagi kalau bukan Resky pacarku. “
Astagfirullah” kata yang ku ucapkan mewakili rasa kekagetanku. “Kita ke kantin
yukk..!!” ajakan pacarku yang merasa tidak bersalah. Diam, hanya itu respon
yang bisa ku berikan pada Resky. Sifatnya yang terlalu cuek padaku
berbanding terbalik dengan sifat mama yang terlalu overprotective , memaksa ku untuk menimbulkan rasa kejenuhan yang
sulit untuk dibicarakan. Beberapa detik kemudian aku mencoba menjawap ajakan
Resky dengan sedikit anggukan. Keheningan, hanya keadaan itu yang selalu
kurasakan apabila bersama Resky. Keadakan itu tak pernah berubah, begitu pula
pada acara makan di kantin kampus. Tanpa ada kata sedikitpun yang
mengiringi suapan demi suapan aku dengannya, kami berdua hanya sibuk
dengan makanan dan minuman yang telah dipesan. Keheningan pun diperparah dengan
kesibukan masing-masing pada alat komunikasi yang menyediakan aplikasi
yang begitu banyak. Ternyata semua orang benar, bahwa dampak alat
komunikasi memang mempermudah komunikasi dengan orang yang jauh jaraknya dengan
kita, namun mempersulit komunikasi dengan orang yang dekat dengan kita.
Keheningan
pun berlanjut ketika kami berjalan menuju ruang kuliah.
***
You will see I can give you…every thing
you need…nada ponsel ku berdering mengawali pagiku yang biasa saja. Nada
ponsel yang juga menghentikan suapan roti yang menjadi sarapan pagiku. Pasti
mama lagi, pikirku yang memutus penasaran pada pengirim pesan singkat itu. Aku
segera mengambil ponsel yang terletak di atas meja kamar. ‘my boyfriend’,
tampilan layar ponselku yang membuat aka sedikit terkejut sekaligus senang.
Tumben Resky kirim pesan pagi-pagi begini, biasanya ngak pernah mungkin dia
lagi kesambet cetusku seraya menyentuh layar ponsel yang bertuliskan open message. Layar ponselpun
menampilkan isi pesan Resky padaku.
Ratih, aku merasa hubungan kita terlalu hambar.
Apa semua ini kesalahanku? Apabila semua ini kesalahan ku aku minta maaf
ya. Aku janji sama kamu aku akan mencoba memperbaiki hubungan kita dengan
sedikit bumbu kasih saying. I love you Ratih.
Resky kok jadi berubah begini ya? Pikirku penasaran yang mengiringi langkah
kaki ku menuju pantai yang lagi-lagi menampilkan sunrice yang begitu indah. Kali ini
langkah ku percepat bukan karena sinyal deburan ombak lagi, melainkan rasa
penasaranku pada pahlawan pantai yang kemarin tidak bisa terjawab. Mataku tak
terputus pada kakek agar tidak kehilangan wajahnya yang begitu rapuh. Aku lebih
mempercepat langkah menuju pantai dengan kecepatan yang tidak biasa kulakukan.
Nada ponselku kembali ku dengar. Segera mengambil ponsel dari saku, itu yang
aku lakukan namun tetap melangkah cepat menuju bibir pantai. Layar pada
ponselku menampilkan nama pengirim yaitu mama. Melihat nama pengirim itu, aku
kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celanaku tanpa membuka isi pesan yang
dikirim oleh mama padaku. Palingan isi pesan mama itu-itu juga, ngak penting
juga pikirku dalam hati seraya berlari menuju tempat keseharian kakek.
Pantai.
“Kek…...!” panggilku pada kakek yang membuat kakek terkejut, sontak membuat
bahunya sedikit naik dan kepala yang menoleh kearahku seketika.
“Astagfirullah..” kakek mangucapkan kata yang mewakili rasa kagetnya pada
penggilan aku tadi.
“Ada apa nak?” tanyanya padaku seraya menghentikan perkejaannya sejenak.
“Maaf ya kek, aku Ratih ,aku mengganggu kakek ya?” jawabku yang tidak tega
mengganggu kakek yang sedang bekerja.
“Tidak apa-apa, memangnya kamu ada keperluan apa? Kamu ada masalah ya?” jawab
kakek yang membuat aku sedikit lega sekaligus bingung atas pertanyaanya padaku.
‘ Kok kakek tau ya kalau aku ada masalah’ pikirku penasaran. “ Nggak kok kek,
aku cuma kagum saja sama kakek. Kakek orang yang kuat padahal sudah tua dan
rapuh”. Perkataanku mengalihkan pembicaraan sekaligus membuat kakek bingung.
Kakek mencoba menggandeng tanganku menuju gubuk di tepi pantai
yang menjadi tempat peristirahatan kakek setiap hari.“Orang tuamumu dimana? Dan
kakek perhatikan setiap hari kamu selalu mengunjungi pantai dengan muka bosan,
kanapa?” pertanyaan kakek yang bertubi-tubi padaku .
“ Mama sama papa ada di Thailand Kek, mereka sedang dinas
di sana”.
”Trus kamu dengan siapa tinggal di sini?”pertanyaan kembali
terlontar oleh kakek padaku.
“ Sendirian di vila indah kek, sebenarnya aku jenuh pada mama
yang selalu memberikan perhatian yang terlalu berlebihan padaku kek, beda lagi
dengan Resky pacarku yang malahan terlalu cuek padaku kek.Makanya aku selalu ke
pantai untuk melepas kejenuhan pada semuanya” jawabku jujur pada kakek yang
hanya dijawab dengan senyuman pada bibirnya yang telah rapuh itu.
Keheningan menghampiri percakapan kami seketika, keheningan ini
diisi oleh suara deburan ombak yang besar yang begitu khas.
“ Ratih, kamu tau apa arti semua yang mama kamu berikan
kepadamu?” tanya kakek memutus keheningan . Pertanyaan kakek hanya bisa kujawab
dengan gelengan kepala. “ hanya 2 kata, yaitu kasih sayang ” jawab kakek yang
begitu singkat. Mataku yang awalnya tertuju pada deburan ombak di laut seraya
menoleh cepat kearah kakek. Bukankah overprotective
itu adalah pengekangan? Pikirku dalam hati.
Seketika keheningan kembali datang.
“Pasti kamu menganggap mama mengekang kamu kan?” jawab kakek yang
ternyata mewakili batinku. Anggukan kepala, respon yang kuberikan pada
kakek. “ kasih sayang itu mahal harganya, tanpa kasih sayang hidup tidak ada
artinya, hidup terasa hampa seperti hubungan kamu dengan Resky yang begitu
hambar. Begitu juga kakek, kakek hidup sendirian tanpa kasih sayang orang lain,
jadi kamu harus bersyukur karena masih ada orang yang memberikan kasih sayang
kepadamu”. Kalimat – kalimat kakek membuat batinku tersentuh, kupeluk kakek
dengan kasih sayang.
“Kakek tenang aja, Ratih berjanji akan selalu memberikan kasih
sayang kepada kakek dan kakek juga harus berjanji untuk selalu memberikan
kasih sayang kepadaku tanpa ada hentinya ya!” pelukan kupada kakek semakin erat
dan diiringi oleh tetesan air mata kasih sayang dari seorang cucu terhadap
kakeknya, walupun dia bukan kakek kandungnya.
Mulai hari ini aku akan berusaha untuk memberikan kasih sayang
pada semua orang, agar kehidupanku bahagia. Aku segera mengambil ponsel dan
membaca pesan dari mama yang ternyata berisi kalimat.
Semua kasih sayang ku, tertuju padamu ratih
anakku.
I love you mama. Aku membalas pesan singkat kepada mama dengan
menyentuh layar touchscreen ponsel
kesayanganku.
Kembali ku buka pesan yang dikirimkan Resky padaku yang belum
kubalas apapun. Sekarang segera ku balas I love you too Resky.
Kasih sayang itu mahal harganya...
BalasHapusBener bgt,, so jgn sia-siakan kasih sayang yang ada untuk diri kita...
Like it..^_^