Kamis, 22 November 2012

Cerpen ku (✿◠‿◠)

DUA KATA
            Kringgg….kringg……kring……Suara alarm berbunyi nyaring menunjukkan waktu bangun telah datang. Sontak membuat aku kaget sekaligus membuat semua badanku teronjak di atas springbed. Alarm membuat semua kisah dalam bunga tidurku yang indah terhenti seketika.
 “Dasar jam weker  tidak punya perasaan, orang lagi tidur malah dibangunin ” Cetusku samar- samar pada jam weker yang sebenarnya aku sendiri yang mengaturnya. Aku berusaha untuk mengalahkan rasa kantuk yang seolah memberi  godaan agar tidur kembali, aku mencoba meraih jam weker dan mematikan suaranya yang membuat keributan di kamarku. Ayo lah Ratih banguuuunnn….!!!! Pikirku untuk membantah rasa kantuk  yang  sulit untuk dihilangkan. Aku memulai langkah perlahan bangun dari tempat  tidurku.
            “Aaaaaa………..” pekikanku tanpa sengaja menghilangkan rasa kantukku.  Aku terkejut pada tampilan cermin di depan mataku yang tidak sengaja ku lihat. Close up mataku pada cermin perlahan memperlihatkan objek yang tak bisa ku percaya.
“Mataku bengkak………” pekikan ku lagi. Suara yang membuat seisi rumah seolah kaget dengan suara pekikanku. Namun hanya rumah yang diisi dengan keheningan.
“ Nyesel…nyesel aku nonton sinetron tadi malam, mata aku jadi bengkak ”.  Ujarku kesal sembari melihat mataku di cermin yang tertempel di dinding kamar mandiku.  
Aku mencoba menerima kenyataan bahwa mataku yang dulunya tanpa kantong, sekarang bukan kantong lagi tapi ibaratnya karung di mata. Ujarku kesal dalam hati sambil meraba- raba mata yang tak mungkin kembali seperti semula dengan cepat. Kekesalanku kuhentikan seraya melangkah keluar dari kamar mandi yang menampilkan layar yang tidak mengenakkan bagiku.
“Waw…sunrice!!” mataku beralih pada jendela yang menampilkan layar yang sangat menakjubkan. “Aku ngak akan melewatkan saat – saat yang indah ini ”. Aku mulai melangkahkan kaki menuju pantai yang memberikan sinyal deburan ombak, deburan ombak yang semakin kuat mempercepatlangkah kakiku menuju pantai. Tiba – tiba langkah kakiku terhenti seketika, setelah  aku merasakan getaran mata yang tertuju pada seorang kakek yang telah bungkuk mencoba mendorong kapal kecilnya menuju laut lepas yang seakan telah bersahabat dengan kakek. Hatiku seakan merasakan rintihan suara hati kakek yang mengalami kesusahan dalam mengawali kehidupan paginya. ‘ Ya Allah, ternyata masih ada orang yang lebih tidak beruntung daripada aku’ pikirku seraya memandang sosok yang kuanggap pahlawan pantaiku.
You will see I can give you..every thing you need.. nada dering ponselku berbunyi , menghentikan lamunanku pada pahlawan pantaiku yang tak berujung. Aku bergegas mengambil ponsel pink kesayanganku dari saku celana. “arrgghh…..” bentakku seraya memandang ponsel yang menampilkan nama pengirim pesan singkat itu. “ Mama lagi..mama lagi “ kalimat yang ku keluarkan tanpa ada lawan percakapan. Memangnya mama ngak bosan apa mengirim pesan singkat terus padaku, aku saja sebagai anak mama yang selalu menerima pesan , sudah bosan menerimanya. Pesan singkat mama selalu menggambarkan over protective mama padaku. Selamat pagi Ratih anak mama! Sudah bangun kan? Jangan lupa sarapan ya sebelum berangkat ke kampus!  Oo iya, jangan pacaran terus sama Resky ya..! ntar ngak konsentrasi lagi belajarnya! Sudah dulu ya..Selamat belajar! Kalimat yang aku terima setiap pagi, kadang membuat aku jenuh sekaligus bosan pada perhatian mama yang terlalu berlebihan padaku.
“ Aku capek balas pesan singkat mama”. Omonganku yang memutus kebosanan seraya menutup ponsel  dan memasukkannya kembali pada saku celanaku. Aku melanjutkan langkah menuju bibir pantai yang seakan telah menunggu kehadiranku. Langkah kaki semakinku percepat walaupun jaraknya hanya sekitar 15 meter lagi, tapi aku tidak sabaran lagi menuju bibir pantai yang menampilkan sunrice  yang begitu indah.
“Aaaaa……….” Pekikan suara yang mengarah pada laut lepas seraya kulakukan agar semua beban yang terpendam selama ini bisa lepas seperti suaraku. Pekikan yang juga mewakili rasa bosan pada mama yang terlalu over protective padaku. Namun semua beban yang ada, rasanya terabaikan oleh tampilan memukau pantai yang menampilkan surice yang begitu indah yang  tidak pernah membuat aku bosan walaupun setiap hari aku tidak merasakan perubahan yang significant. Tapi ada satu hal yang membuat aku penasaran dari pantai ini. Penasaran pada kakek…” loh? Kakeknya mana, kok cepat banget menghilangnya? ”. Rasa penasaranku kali ini hanya terjawab oleh rasa kecewa.
***
“Woi…..!!!.” suara yang membuat aku terkejut. Siapa lagi kalau bukan Resky pacarku. “ Astagfirullah” kata yang ku ucapkan mewakili rasa kekagetanku. “Kita ke kantin yukk..!!” ajakan pacarku yang merasa tidak bersalah. Diam, hanya itu respon yang bisa ku berikan pada Resky. Sifatnya yang terlalu cuek padaku  berbanding terbalik dengan sifat mama yang terlalu overprotective , memaksa ku untuk menimbulkan rasa kejenuhan yang sulit untuk dibicarakan. Beberapa detik kemudian aku mencoba menjawap ajakan Resky dengan sedikit anggukan. Keheningan, hanya keadaan itu yang selalu kurasakan apabila bersama Resky. Keadakan itu tak pernah berubah, begitu pula pada acara makan di kantin kampus. Tanpa ada kata sedikitpun yang mengiringi  suapan demi suapan aku dengannya, kami berdua hanya sibuk dengan makanan dan minuman yang telah dipesan. Keheningan pun diperparah dengan kesibukan masing-masing  pada alat komunikasi yang menyediakan aplikasi yang begitu banyak. Ternyata semua orang benar, bahwa dampak  alat komunikasi memang mempermudah komunikasi dengan orang yang jauh jaraknya dengan kita, namun mempersulit komunikasi dengan orang yang dekat dengan kita.
Keheningan pun berlanjut  ketika kami berjalan menuju  ruang kuliah.
***
            You will see I can give you…every thing you need…nada ponsel ku berdering mengawali pagiku yang biasa saja. Nada ponsel yang juga menghentikan suapan roti yang menjadi sarapan pagiku. Pasti mama lagi, pikirku yang memutus penasaran pada pengirim pesan singkat itu. Aku segera mengambil ponsel yang terletak di atas meja kamar. ‘my boyfriend’, tampilan layar ponselku yang membuat aka sedikit terkejut sekaligus senang. Tumben Resky kirim pesan pagi-pagi begini, biasanya ngak pernah mungkin dia lagi kesambet  cetusku seraya menyentuh layar ponsel yang bertuliskan open message. Layar ponselpun menampilkan isi pesan Resky padaku.
Ratih, aku merasa hubungan kita terlalu hambar. Apa semua ini kesalahanku? Apabila semua ini kesalahan ku aku minta maaf ya.  Aku janji sama kamu aku akan mencoba memperbaiki hubungan kita dengan sedikit bumbu kasih saying. I love you Ratih.
            Resky kok jadi berubah begini ya? Pikirku penasaran yang mengiringi langkah kaki ku menuju pantai yang lagi-lagi menampilkan   sunrice yang begitu indah. Kali ini langkah ku percepat bukan karena sinyal deburan ombak lagi, melainkan rasa penasaranku pada pahlawan pantai yang kemarin tidak bisa terjawab. Mataku tak terputus pada kakek agar tidak kehilangan wajahnya yang begitu rapuh. Aku lebih mempercepat langkah menuju pantai dengan kecepatan yang tidak biasa kulakukan. Nada ponselku kembali ku dengar. Segera mengambil ponsel dari saku, itu yang aku lakukan namun tetap melangkah cepat menuju bibir pantai. Layar pada ponselku menampilkan nama pengirim yaitu mama. Melihat nama pengirim itu, aku kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celanaku tanpa membuka isi pesan yang dikirim oleh mama padaku. Palingan isi pesan mama itu-itu juga, ngak penting juga pikirku dalam hati seraya berlari  menuju tempat keseharian kakek. Pantai.
            “Kek…...!” panggilku pada kakek yang membuat kakek terkejut, sontak membuat bahunya sedikit naik dan kepala yang menoleh kearahku seketika. “Astagfirullah..” kakek mangucapkan kata yang mewakili rasa kagetnya pada penggilan aku tadi.
            “Ada apa nak?” tanyanya padaku seraya menghentikan perkejaannya sejenak.
            “Maaf ya kek, aku Ratih ,aku mengganggu kakek ya?” jawabku yang tidak tega mengganggu kakek yang sedang bekerja.
            “Tidak apa-apa, memangnya kamu ada keperluan apa? Kamu ada masalah ya?” jawab kakek yang membuat aku sedikit lega sekaligus bingung atas pertanyaanya padaku. ‘ Kok kakek tau ya kalau aku ada masalah’ pikirku penasaran. “ Nggak kok kek, aku cuma kagum saja sama kakek. Kakek orang yang kuat padahal sudah tua dan rapuh”. Perkataanku mengalihkan pembicaraan sekaligus membuat kakek bingung.
Kakek mencoba menggandeng tanganku menuju gubuk di tepi pantai yang menjadi tempat peristirahatan kakek setiap hari.“Orang tuamumu dimana? Dan kakek perhatikan setiap hari kamu selalu mengunjungi pantai dengan muka bosan, kanapa?” pertanyaan kakek yang bertubi-tubi padaku .
“ Mama sama papa ada di Thailand Kek, mereka  sedang dinas di sana”.
”Trus kamu dengan siapa tinggal di sini?”pertanyaan kembali terlontar oleh kakek padaku.
“ Sendirian di vila indah kek, sebenarnya aku jenuh pada mama yang selalu memberikan perhatian yang terlalu berlebihan padaku kek, beda lagi dengan Resky pacarku yang malahan terlalu cuek padaku kek.Makanya aku selalu ke pantai untuk melepas kejenuhan pada semuanya” jawabku jujur pada kakek yang hanya dijawab dengan senyuman pada bibirnya yang telah rapuh itu.
Keheningan menghampiri percakapan kami seketika, keheningan ini diisi oleh suara deburan ombak yang besar yang begitu khas.
“ Ratih, kamu tau apa arti semua yang mama kamu berikan kepadamu?” tanya kakek memutus keheningan . Pertanyaan kakek hanya bisa kujawab dengan gelengan kepala. “ hanya 2 kata, yaitu kasih sayang ” jawab kakek yang begitu singkat. Mataku yang awalnya tertuju pada deburan ombak di laut seraya menoleh cepat kearah kakek. Bukankah overprotective itu adalah pengekangan? Pikirku dalam hati. 
Seketika keheningan kembali datang.
“Pasti kamu menganggap mama mengekang kamu kan?” jawab kakek yang ternyata  mewakili batinku. Anggukan kepala, respon yang kuberikan pada kakek. “ kasih sayang itu mahal harganya, tanpa kasih sayang hidup tidak ada artinya, hidup terasa hampa seperti hubungan kamu dengan Resky yang begitu hambar. Begitu juga kakek, kakek hidup sendirian tanpa kasih sayang orang lain, jadi kamu harus bersyukur karena masih ada orang yang memberikan kasih sayang kepadamu”. Kalimat – kalimat kakek membuat batinku tersentuh, kupeluk kakek dengan kasih sayang.
“Kakek tenang aja, Ratih berjanji akan selalu memberikan kasih sayang kepada kakek  dan kakek juga harus berjanji untuk selalu memberikan kasih sayang kepadaku tanpa ada hentinya ya!” pelukan kupada kakek semakin erat dan diiringi oleh tetesan air mata kasih sayang dari seorang cucu terhadap kakeknya, walupun dia bukan kakek kandungnya.
Mulai hari ini aku akan berusaha untuk memberikan kasih sayang pada semua orang, agar kehidupanku bahagia. Aku segera mengambil ponsel dan membaca pesan dari mama yang ternyata berisi kalimat.
Semua kasih sayang ku, tertuju padamu ratih anakku.
I love you mama. Aku membalas pesan singkat kepada mama dengan menyentuh layar touchscreen ponsel kesayanganku.
Kembali ku buka pesan yang dikirimkan Resky padaku yang belum kubalas apapun.  Sekarang segera ku balas I love you too Resky.


1 komentar:

  1. Kasih sayang itu mahal harganya...
    Bener bgt,, so jgn sia-siakan kasih sayang yang ada untuk diri kita...
    Like it..^_^

    BalasHapus